KEHIDUPAN KOTA
Sering dengar dalam suatu media ataupun saat kita SD dalam pelajaran
Kewarganegaraan, bahwa kita dalam harus melakukan sosialisasi dalam
masyarakat yang ada dilingkungan. Namun kita sendiri kadang kurang paham
apa itu sebenarnya masyarakat. Masyarakat merupakan sekelompok manusia
atau individu yang memiliki hubungan baik secara keseluruhan maupun
dengan cakupan wilayah. Dari pengertian diatas dapat kita bagi menjadi
dua, yaitu pengertian sempit dari masyarakat bahwa masyarakat sekelompok
individu yang berada dalam suatu wilayah tertentu dan dalam arti luas
bahwa masyarakat kumpulan individu yang memiliki hubungan tanpa
memperhatikan wilayah dan tertori.
Tentunya baik dalam arti sempit maupun arti luas Masyarakat memiliki syarat tertentu diantaranya :
• Masyarakat harus merupakan kumpulan individu atau kelompok
• Individu-individu dalam masyarakat harus saling berhubungan
Kota dan Desa
Sekarang bila kita lihat dalam arti sempit bahwa masyarakat itu terjadi
akibat dalam suatu wilayah berarti dalam kehidupan yang rasakan bahwa
masyarakat terbagi menjadi 2 yaitu Masyarakat Kota dan Masyarakat Desa.
Sekarang yang dipertanyakan apa perbedaan dari kedua Masyarakat ini,
apakah masyarakat kota menggunakan mobil sedangkan masyarakat desa
menggunakan delman atau dari segi penampilan dimana masyarakat kota
menggunakan baju berlapis-lapis sedangkan masyarakat desa hanya satu
lapis saja.
Ternyata kehidupan desa maupun kota tidak dilihat dari alat transportasi
atau tampilannya, namun dari kultur kehidupannya yang sangat kita
sadari. Dalam post “KEDUDUKAN YANG SAMA PADA RUANG YANG BERBEDA” saya
pernah ulas sedikit perbedaan kultur kehidupan kota dengan desa.
Kehidupan Kota memiliki masyarakat yang berkultur sangat tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Individu-individu
Perbedaan Antara Kehidupan (Sosial) Kota Dan Desa beberapa diantaranya adalah:
1.perbedaan dalam organisasi sosial. Kemungkinan perbedaan ini adalah
perbedaan yang terbesar. Perbedaan ini diperlihatkan pada:
a. keluarga. Di desa ikatan keluarga relatif lebih kuat daripada ikatan
keluarga di kota dimana kepentingan individual lebih ditekankan
ketimbang kepentingan keluarga. Di desa, ikatan antar keluarga pun lebih
besar dan lebih erat daripada di kota. di desa, keakraban dankontrol
keluarga lebih tinggi daripada di kota. di kota fungsi keluarga semakin
lama semakin menurun daripada di desa.
b. Perkawinan. Di kota ikatan perkawinan karena “cinta” lebih tinggi
daripada di desa. Di kota terdapat angka perceraian yang lebih tinggi.
Di kota terdapat kebebasan yang lebih untuk mempilih pasangan.
c. Keadaan wanita. secara umum keadaan wanita di desa dianggap
lebih rendah daripada laki-laki.
d. Daerah sekitar. Di desa keadaan lingkungan (tetangga) memberi
pengaruh yang besar daripada di kota. di kota kadang orang tidak
mengenal tetangganya.
e. Rasa ke”kami”an. Rasa kebersamaan di desa terasa lebih tinggi
daripada di kota. pengaruh komunitas pada individual di desa lebih
tinggi daripada di kota.
f. Perbedaan kelas. Perbedaan kelas di kota lebih ditekankan daripada
di desa. Dengan demikian terjadi lebih banyak konflik di kota. perbedaan
kelas ini lebih khusus pada perbedaan kelas karena ekonomi.
2.perbedaan pada batasan sosial. Kontrol sosial di desa dan di kota yang
berbeda antara kota dan desa bahwa di desa etika bersama dan adat
istiadat mengkontrol perilaku, sedangkan komunitas di kota tidak
melakukan kontrol yang sejauh itu.
3.perbedaan dalam hubungan sosial.
a. Hubungan sosial di desa lebih erat dan personal daripada di kota.
Gist dan Halbert mengatakan bahwa kota menganjurkan hubungan
impersonal daripada hubungan personal.
b. Di desa hubungan antar individu biasanya pula berhubungan dengan
kelompoknya, keluarganya dan hubungan dekatnya yang lain. Di kota
hubungan ini lebih cenderung berhenti pada kelompok sekundernya saja.
4.perbedaan dalam interaksi sosial.
a. Kegiatasn interaksi sosial di desa dalam jumlah lebih sedikit
daripada di kota. meskipun demikian interaksi di desa terjadi lebih
personal daripada di kota.
b. Di kota terdapat perbedaan divisi pekerja dan spesialisasi lain,
sehingga kerjasama antar divisi itu lebih besar daripada di desa.
Sedangkan di desa setiap individu tidak secara khusus masuk dalam suatu
spesialisasi tertentu.
c. Dunia kompetisi di kota lebih sengit daripada di desa.
d. Konflik yang terjadi di desa biasanya terjadi secara langsung
sedangkan di kota terjadi tidak secara langsung.
e. Jika dibandingkan dengan desa, terdapat unsur toleransi yang lebih
tinggi di kota daripada di desa.
f. Proses asimilasi (penerimaan budaya) di desa terjadi secara lebih lamban daripada di kota.
Sumber : http://mierzh.wordpress.com/2011/12/12/kehidupan-kota-dan-desa/
Rabu, 11 Januari 2012
Sisi Kehidupan Desa Mapila
Bajo Bangkit - Bajo Bangkit
Desa Mapila dihuni 800 jiwa dengan jumlah KK mencapai 157. Desa yang terdiri dari atas 3 dusun (Dusun Fising, Dusun Malandahi dan Dusun Malandahi Pantai) ini 80% penduduknya adalah Suku Bajo, sisanya adalah Suku Bugis. Desa tersebut sudah terbentuk menjadi desa devinitif sejak 20 tahun yang lalu dan untuk pertama kalinya desa tersebut dipimpin oleh kepala Desa dari suku Bajo sendiri. Selama ini kepala desa berasal dari daratan yang bukan orang Bajo karena saat itu belum ada orang Bajo yang bersekolah.
Menurut Mustapa, orang tua mereka berasal dari Pulau Balu (Kabupaten Muna). Ia merupakan satu-satunya kepala desa di Pulau Kabaena yang memimpin Desa yang mayoritas penduduknya Suku Bajo. Ada beberapa desa yang penduduknya Suku Bajo, namun kepala desanya dijabat oleh orang lain di luar desa tersebut. Desa ini masih menyimpan berbagai macam sejarah tentang suku Bajo. Inilah penuturan Mustapa kepada Team Bajo Bangkit tentang berbagai persoalan di desanya:
Segi Pendidikan :
Dari 800 jiwa penduduk Desa Mapila, untuk anak-anak Suku Bajo hanya ada 2 orang yang tamat SMA, belum ada satupun yang melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas. Untuk tingkat SMP ada satu orang yang saat ini tengah duduk di kelas IX. Untuk akses pendidikan, SD terletak 5 KM dari pemukiman Suku Bajo, sementara tingkat SMP dan SMA berjarak sekitar 25 KM. Anak yang ingin bersekolah di SMP dan SMA harus tinggal dengan orang lain atau keluarga yang rumahnya dekat dengan sekolah, sebab akses transportasi juga sangat sulit. Di tambah jalanan yang berbatu.
Segi Ekonomi :
Warga Desa Mapila menggantungkan hidupnya dari laut. Baik sebagai nelayan maupun sebagai pembudidaya rumput laut. Banyak nelayan di desa ini yang melakukan Pongka’ (meluat beberapa hari baru pulang ke rumah) untuk mendapatkan tangkapan yang banyak. Sementara ada juga beberapa nelayan yang melakukan aktivitas sampingan di darat seperti berkebun jambu mente dan memelihara sapi. Ini di lakukan karena aktivitas melaut kadang hanya di lakuan satu kali yaitu pada pagi hari, siang atau hanya pada malam hari.
Segi Budaya :
Untuk masalah budaya, Suku Bajo di Desa Mapila masih sangat kental. Sebagai kepala desa yang menjadi pemimpin di desa tersebut dan sebagai kepala adat, Mustapa masih menyimpan bendera kebesaran bajo (Ula-Ula). Ula-Ula dikibarkan pada saat ada acara ritual masyarakat Bajo, pesta maupun segala kegiatan yang menyangkut budaya Suku Bajo. Ula-Ula di kibarkan di depan rumah yang melakukan hajatan. Yang mengadakan hajatan tersebut hanya boleh di laksanakan oleh keturunan kasta tertinggi pada masyarakat Bajo. Sebab dalam masyarakat Bajo dahulu dikenal istilah kasta. Kasta tersebut berurutan dari atas ke bawah (lolo, datu , puah, uwwa, ata’). Seperti pada acara pernikahan, Ula-Ula di kibarkan di saat acara akan di mulai (Ngaruntoh) 2 atau 3 hari sebelum acara akad nikah, sementara untuk penurunan bendera tersebut di laksanakan setelah duai boe ( acara selamatan 3 hari setelah akad nikah ). ( Bajo Bangkit)
Sumber : http://suarakomunitas.net/baca/17422/sisi-kehidupan-desa-mapila.html
Kamis, 01 Desember 2011
TUGAS 3 ILMU SOSIAL DASAR (ISD)
Struktur Perilaku Makro Mikro
Perspektif
perilaku menyatakan bahwa perilaku sosial kita paling baik dijelaskan
melalui perilaku yang secara langsung dapat diamati dan lingkungan yang
menyebabkan perilaku kita berubah. Perbedaan utama dalam perspektif
perilaku meletakkan struktur sosial (makro) sebagai perilaku sosial
individu, sedangkan sebagian lebih memandang individu (mikro) merupakan
agen yang aktif dalam membentuk perilakunya sendiri.
Perilaku dalam struktur makro berdasarkan pengamatan, presiden
mengambil peran kepemimpinan, yang berada diankgkatan bersenjata akan
mengambil peran dalam perlindungan, dan sehari hari masyarakat
bertanggung jawab dalam menjaga kehidupan ekonomi. Dalam skala yang
lebih kecil terdapat dalam keluarga. Dalam keluarga ibu sebagai
pemelihara anak sedangkan ayah bertanggung jawab dalam mencari nafkah
dan menyiapkan segala kebutuhan di keluarganya.
Perilaku dalan struktur mikro berdasarkan pada pengamatan yang berada
di sekolah sekolah, melihat peraturan peraaturan yang ada disana
terutama peraturan yang diwajibkan bagi siswa untuk datang tepat pada
waktunya, menggunakan seragam yang telah di tentukan berdasarkan hari,
dan bersikap hormat kepada semua guru. Kewajiban kewajiban tersebut ada
dalam peraturan dan memiliki sangsi jikalau ada siswa yang melanggar
peraturan tersebut. Dari contoh tersebut terdapat cara bertindak,
berpikir dan berperasaan yang ada diluar sekolah, yang memaksa para
siswa dan mengendalikan para murid dengan peraturan peraturan tersebut.
Smber : http://ariffirmansyahh.wordpress.com/2011/11/29/tugas3-isd/
Senin, 28 November 2011
TUGAS 2 ISD (ILMU SOSIAL DASR)
TUGAS 2 ILMU SOSIAL DASAR (ISD)
.
.
# INDIVIDU
Pengertian Kehidupan Pribadi dan Karakteristiknya
Kehidupan
pribadi sukar untuk dirumuskan, ia amat kompleks dan unik. Pada
hakikatnya manusia merupakan pribadi yang utuh dan memiliki sifat-sifat
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam kedudukannya sebagai
makhluk individu, seseorang menyadari bahwa dalam kehidupannya memiliki
kebutuhan yang diperuntukkan bagi kepentingan diri pribadi, baik fisik
maupun nonfisik. Kebutuhan diri pribadi tersebut meliputi kebutuhan
fisik dan kebutuhan sosio-psikologis. Dalam pertumbuhan fisiknya,
manusia memerlukan kekuatan dan daya tahan tubuh serta perlindungan
keamanan fisiknya. Kondisi fisik amat penting dalam perkembangan dan
pembentukan pribadi seseorang.
Kehidupan
pribadi seseorang individu merupakan kehidupan yang utuh dan lengkap
dan memiliki cirri khusus dan unik. Kehidupan pribadi seseorang
menyangkut berbagai aspek, antara lain aspek emosional, sosial
psikologis dan sosial budaya, dan kemampuan intelektual yang terpadu
secara integrative dengan factor lingkungan kehidupan. Pada awal
kehidupannya dalam rangka menuju pola kehidupan pribadi yang lebih
mantap, seorang individu berupaya untuk mampu mandiri, dalam arti mampu
mengurus diri sendiri sampai dengan mengatur dan memenuhi kebutuhan
serta tugasnya sehari-hari. Untuk itu diperlukan penguasaan situasi
untuk menghadapi berbagai rangsangan yang dapat mengganggu kestabilan
pribadinya.
Sumber : http://barthimeous.blogspot.com/2011/04/perkembangan-kehidupan-pribadi.html
# MASYARAKAT
Pengertian Masyarakat ialah sekumpulan manusia / individu yang berkumpul untuk berinteraksi sesama manusia/individu yang berada didalam satu lingkup lingkingan. Agar sesama manusia /individu saling berkomunikasi dalam lingkungan/ kelompok individu Tatanan Masyarakat adalah suatu peraturan yang berada dilingkungan masyarakat agar dapat mengatur mayarakatnya tersebut,maka dibentuk seprti RT/RW dan Pemerintah yg lebih tinggi.
contoh masyarakat ialah sekumpulan individu / sekumpulan keluarga yang berada di sebuah lingkungan atau kelompok.
# KELUARGA
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras" dan warga yang berarti "anggota".[1] Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.[1]
Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut.
# MASYARAKAT
Pengertian Masyarakat ialah sekumpulan manusia / individu yang berkumpul untuk berinteraksi sesama manusia/individu yang berada didalam satu lingkup lingkingan. Agar sesama manusia /individu saling berkomunikasi dalam lingkungan/ kelompok individu Tatanan Masyarakat adalah suatu peraturan yang berada dilingkungan masyarakat agar dapat mengatur mayarakatnya tersebut,maka dibentuk seprti RT/RW dan Pemerintah yg lebih tinggi.
contoh masyarakat ialah sekumpulan individu / sekumpulan keluarga yang berada di sebuah lingkungan atau kelompok.
# KELUARGA
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta "kulawarga". Kata kula berarti "ras" dan warga yang berarti "anggota".[1] Keluarga adalah lingkungan di mana terdapat beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah.[1]
Keluarga sebagai kelompok sosial terdiri dari sejumlah individu, memiliki hubungan antar individu, terdapat ikatan, kewajiban, tanggung jawab di antara individu tersebut.
Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. [2]
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. [2]
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah
tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing
dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Contoh keluarga adalah didalam keluarga ada berbagai macam anggota seperti kepela keluarga,ibu,dan juga anak-anak
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/KeluargaTUGAS 1 ISD (ILMU SOSIAL DASAR)
TUGAS 1
#KEMAMPUAN AKADEMIS
Thursday, December 10, 2009
Kemampuan Akademik
Kemampuan
akademik merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa. Kemampuan akademik siswa adalah gambaran tingkat
pengetahuan atau kemampuan siswa terhadap suatu materi pembelajaran yang
sudah dipelajari dan dapat digunakan sebagai bekal atau modal untuk
memperoleh pengetahuan yang lebih luas dan kompleks lagi, maka dapat
disebut sebagai kemampuan akademik (Winarni, 2006).
Lebih
lanjut Nasution (1988) dalam Winarni (2006) mengemukakan bahwa secara
alami dalam satu kelas kemampuan akademik siswa bervariasi, jika
dikelompokkan menjadi 3 kelompok, maka ada kelompok siswa berkemampuan
tinggi, menengah, dan rendah. Menurut Anderson dan Pearson (1984);
Nasution (1988); dan Usman (1996) dalam Winarni (2006), apabila siswa
memiliki tingkat kemampuan akademik berbeda kemudian diberi pengajaran
yang sama, maka hasil belajar (pemahaman konsep) akan berbeda-beda
sesuai dengan tingkat kemampuannya, karena hasil belajar berhubungan
dengan kemampuan siswa dalam mencari dan memahami materi yang
dipelajari.
Herlina (2002) dalam Muniroh, dkk. (2005) menyatakan bahwa siswa
berkemampuan tinggi adalah sejumlah siswa yang memiliki keadaan awal
lebih tinggi dari rata-rata kelas. Sedangkan siswa yang berkemampuan
rendah adalah sejumlah siswa yang memiliki keadaan awal lebih rendah
atau sama dengan rata-rata kelas. Siswa berkemampuan tinggi memiliki
keadaan awal lebih baik daripada siswa berkemampuan awal rendah. Hal ini
menyebabkan siswa berkemampuan tinggi memiliki rasa percaya diri yang
lebih dibandingkan dengan siswa yang berkemampuan rendah.
Berkaitan
dengan tingkat penalaran dan pada saat pembelajaran di kelas, kelompok
siswa kurang pandai yang mempunyai penalaran lebih rendah memperlihatkan
beberapa indikasi yang menurut Zubaidah (2000) dalam Habibah (2008)
adalah sebagai berikut:
1. siswa kurang kreatif, yang nampak dari sangat jarangnya mereka mengajukan pertanyaan
2. kalau diberi pertanyaan, jarang ada yang menjawab bahkan mereka sering tidak menjawab
3. kalaupun
ada yang menjawab, jawaban yang dilontarkan seringkali kurang didasari
penalaran, sehingga nampaknya daya penalaran kurang atau belum mencapai
penalaran formal
4. konsep
dasar yang sudah diperoleh sebelumnya sudah dilupakan sehingga pola
belajar siswa tidak menunjukkan pola belajar konstruktivisme.SUMBER : http://biologyeducationresearch.blogspot.com/2009/12/kemampuan-akademik.html
#KEMAMPUAN PROFESIONAL
Kemampuan Profesional adalah sesuatu kemampuan yg harus kita lakukan dengan baik tanpa kita harus mengeluh untuk tidak melakukan tugas tersebut. Jadi yg dimaksud kemampuan profesional ialah suatu kemampuan yg dilakukan secara maksimal.Contoh kemampuan profesional
Pengertian Guru Profesional > Kompetensi :: wikiberitaNET
Berikut ini informasi seputar pengertian guru profesional > kompetensi semoga bermanfaat untuk anda. Mari kita simak pengertian guru profesional > kompetensi dibawah ini.

Guru Profesional
Dalam proses belajar mengajar guru adalah orang yang memberikan
pelajaran. Dalam kamus bahasa Indonesia, guru diartikan “orang yang
kerjanya mengajar”. (Purwanarminta, 1984: 335) Guru adalah salah satu
komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan
serta dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di
bidang pembangunan”.
(Sardiman, 2001:123) Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun secara klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah” (Djamarah, 1994:33). Pada sisi lain , Djamarah berpendapat “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal di sekolah maupun di luar sekolah” (Djamarah, 2000:32).
Latar belakang pendidikan seorang guru dari guru lainnya terkadang tidak sama dengan pengalaman pendidikan yang pernah dimasuki selama jangka waktu tertentu. Perbedaan latar belakang pendidikan akan mempengaruhi kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan interaksi belajar mengajar. Tetapi, karena banyaknya guru yang dibutuhkan di madrasah-madrasah maka latar belakang pendidikan seseorang seringkali tidak dipertimbangkan..
Kompetensi Guru
“Kompetensi berasal dari bahasa inggris, yakni “Competency” yang berarti kecakapan, kemampuan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu” (Djamarah, 1994 : 33).
Kalau kompetensi berarti kemampuan atau kecakapan, maka hal ini eratkaitannya dengan pemilikan pengetahuan, kecakapan atau keterampilan sebagai guru. Dengan demikian, tidaklah berbeda dengan kemampuan kompetensi yang dikemukakan oleh abdul kadir Munsyi (1994 : 33).Yang mengatakan bahwa “Kompetensi sebagai suatu tugas yang memadai atau memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang”. Pengertian Guru
Terkait dengan pendapat di atas, Ametembun (1994 :33) megemukakan bahwa “Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun luar sekolah”. Ini berarti bahwa seorang guru, minimal harus memiliki dasar-dasar kompetensi sebagai wewenang dan kemampuan dalam menjalankan tugas. Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dipahami bahwa kompetensi guru merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh seorang guru, baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan serta tanggung jawab terhadap murid-murid yang di asuhnya,sehingga tugasnya sebagai seorang pendidik dapat terlaksana dengan baik.
Untuk mendapat pengertian dan pengetahuan mengenai kompetensi guru ini, pembahasan berikut akan membahas sepuluh kompetensi propesional guru yang harus dimiliki dan bahkan dikuasi dalam dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Pengertian Guru
Dalam hal inilah guru perlu mengetahui dan memahami kompetensi sebagai guru dengan segala seluk beluknya. Kompetensi guru yang dikatan sebagai modal dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran banyak macamnya. Secara garis besar dapat di lihat dari dua segi yaitu dari segi kompetensi pribadi dan dari kompetensi professional. Adapun macam-macam kompetensi tersebut ialah:
Kesimpulan kemampuan personal adalah kemampuan yang dimiliki setiap orang dan kemampuan tersebut selalu berbeda dari setiap orang.
Contoh Kemampuan Personal : Kemampuan kita dalam mengerjakan suatu tugas seperti skiil kita dalam bekerja/mengoperasikan sebuah mesin diesel atau bekerja disuatu perusahaan menggunakan komputer.
Dalam arti kita dapat mengoperasikan semua mesin yang ada dalam sebuah perusahaan atau pabrik.

(Sardiman, 2001:123) Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun secara klasikal, baik di sekolah maupun di luar sekolah” (Djamarah, 1994:33). Pada sisi lain , Djamarah berpendapat “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun klasikal di sekolah maupun di luar sekolah” (Djamarah, 2000:32).
Latar belakang pendidikan seorang guru dari guru lainnya terkadang tidak sama dengan pengalaman pendidikan yang pernah dimasuki selama jangka waktu tertentu. Perbedaan latar belakang pendidikan akan mempengaruhi kegiatan guru dalam melaksanakan kegiatan interaksi belajar mengajar. Tetapi, karena banyaknya guru yang dibutuhkan di madrasah-madrasah maka latar belakang pendidikan seseorang seringkali tidak dipertimbangkan..
Kompetensi Guru
“Kompetensi berasal dari bahasa inggris, yakni “Competency” yang berarti kecakapan, kemampuan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu” (Djamarah, 1994 : 33).
Kalau kompetensi berarti kemampuan atau kecakapan, maka hal ini eratkaitannya dengan pemilikan pengetahuan, kecakapan atau keterampilan sebagai guru. Dengan demikian, tidaklah berbeda dengan kemampuan kompetensi yang dikemukakan oleh abdul kadir Munsyi (1994 : 33).Yang mengatakan bahwa “Kompetensi sebagai suatu tugas yang memadai atau memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan seseorang”. Pengertian Guru
Terkait dengan pendapat di atas, Ametembun (1994 :33) megemukakan bahwa “Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik secara individual maupun klasikal, baik di sekolah maupun luar sekolah”. Ini berarti bahwa seorang guru, minimal harus memiliki dasar-dasar kompetensi sebagai wewenang dan kemampuan dalam menjalankan tugas. Berdasarkan uraian di atas, dapatlah dipahami bahwa kompetensi guru merupakan suatu kemampuan yang mutlak dimiliki oleh seorang guru, baik dari segi pengetahuan, keterampilan dan kemampuan serta tanggung jawab terhadap murid-murid yang di asuhnya,sehingga tugasnya sebagai seorang pendidik dapat terlaksana dengan baik.
Untuk mendapat pengertian dan pengetahuan mengenai kompetensi guru ini, pembahasan berikut akan membahas sepuluh kompetensi propesional guru yang harus dimiliki dan bahkan dikuasi dalam dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai pengajar. Pengertian Guru
Dalam hal inilah guru perlu mengetahui dan memahami kompetensi sebagai guru dengan segala seluk beluknya. Kompetensi guru yang dikatan sebagai modal dalam pengelolaan pendidikan dan pengajaran banyak macamnya. Secara garis besar dapat di lihat dari dua segi yaitu dari segi kompetensi pribadi dan dari kompetensi professional. Adapun macam-macam kompetensi tersebut ialah:
- Mengembangkan kepribadian
- Berintraksi dan berkomunikasi
- Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan
- Melaksanakan administrasi sekolah
- Melaksanakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran
- Menguasi landasan kependidikan
- Menguasi bahan pengajaran
- Menyusun program pengajaran
- Melaksanakan program pengajaran
- Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan
#KEMAMPUAN PROFESIONAL
Kemampuan Personal adalah Kemampuan yang ada dalam diri sesorang dan kemampuan tersebut tidak terdapat dalam kemampuan orang atau tidak sama antara satu dengan satu orang lagi. Jadi kemapuan seseorang itu berbeda ada yang pandai bermain musik dan ada juga yang pandai berolahraga.Kesimpulan kemampuan personal adalah kemampuan yang dimiliki setiap orang dan kemampuan tersebut selalu berbeda dari setiap orang.
Contoh Kemampuan Personal : Kemampuan kita dalam mengerjakan suatu tugas seperti skiil kita dalam bekerja/mengoperasikan sebuah mesin diesel atau bekerja disuatu perusahaan menggunakan komputer.
Dalam arti kita dapat mengoperasikan semua mesin yang ada dalam sebuah perusahaan atau pabrik.
Jumat, 04 November 2011
RISC ( Reduce Instruction Set Computer )
RISC ( Reduce Instruction Set Computer )
Beberapa elemen penting pada arsitektur RISC :
1. Set instruksi yang terbatas dan sederhana
2. Register general-purpose yang berjumlah banyak, atau penggunaan teknologi kompiler untuk mengoptimalkan pemakaian registernya.
3. Penekanan pada pengoptimalan pipeline instruksi.
Ditinjau dari jenis set instruksinya, ada 2 jenis arsitektur komputer, yaitu:
1. Arsitektur komputer dengan kumpulan perintah yang rumit (Complex Instruction Set Computer = CISC)
2. Arsitektur komputer dengan kumpulan perintah yang sederhana (Reduced Instruction Set Computer = RISC)
CISC dimaksudkan untuk meminimumkan jumlah perintah yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan yang diberikan. (Jumlah perintah sedikit tetapi rumit) Konsep CISC menjadikan mesin mudah untuk diprogram dalam bahasa rakitan, tetapi konsep ini menyulitkan dalam penyusunan kompiler bahasa pemrograman tingkat tinggi.
Dalam CISC banyak terdapat perintah bahasa mesin. RISC menyederhanakan rumusan perintah sehingga lebih efisien dalam penyusunan kompiler yang pada akhirnya dapat memaksimumkan kinerja program yang ditulis dalam bahasa tingkat tinggi.
Konsep arsitektur RISC banyak menerapkan proses eksekusi pipeline. Meskipun jumlah perintah tunggal yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang diberikan mungkin lebih besar, eksekusi secara pipeline memerlukan waktu yang lebih singkat daripada waktu untuk melakukan pekerjaan yang sama dengan menggunakan perintah yang lebih rumit.
Mesin RISC memerlukan memori yang lebih besar untuk mengakomodasi program yang lebih besar. IBM 801 adalah prosesor komersial pertama yang menggunakan pendekatan RISC.
Lebih lanjut untuk memahami RISC, diawali dengan tinjauan singkat tentang karakteristik eksekusi instruksi.
Eksekusi InstruksiWaktu eksekusi dapat dirumuskan sbb.:
Waktu eksekusi = N x S x T
Dengan
N adalah jumlah perintah
S adalah jumlah rata-rata langkah per perintah
T adalah waktu yang diperlukan untuk melaksanakan satu langkah
Kecepatan eksekusi dapat ditingkatkan dengan menurunkan nilai dari ketiga varisbel di atas.
Arsitektur CISC berusaha menurunkan nilai N, sedangkan
Arsitektur RISC berusaha menurunkan nilai S dan T.
Proses pipeline dapat digunakan untuk membuat nilai efektif S mendekati 1 (satu) artinya komputer menyelesaikan satu perintah dalam satu siklus waktu CPU.
Nilai T dapat diturunkan dengan merancang perintah yang sederhana.
Ciri-ciri Prosesor RISC
Sebenarnya, prosesor RISC tidak sekedar memiliki instruksi-instruksi yang sedikit dan sederhana seperti namanya tetapi juga mencakup banyak ciri-ciri lain yang tidak semuanya disepakati oleh kalangan perancang sendiri. Meskipun demikian, banyak yang telah bersepakat bahwa prosesor memiliki ciri-ciri tertentu untuk membedakannya dengan prosesor bukan RISC.
Pertama, prosesor RISC mengeksekusi instruksi pada setiap satu siklus detak (Robinson, 1987 : 144; Johnson, 1987 : 153). Hasil penelitihan IBM (International Business Machine) menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan instruksi-instruksi kompleks hasil kompilasi sangat kecil dibanding dengan instruksi-instruksi sederhana. Dengan perancangan yang baik instruksi sederhana dapat dibuat agar bisa dieksekusi dalam satu siklus detak. Ini tidak berarti bahwa dengan sendirinya prosesor RISC mengeksekusi program secara lebih cepat dibanding prosesor CISC. Analogi sederhananya adalah bahwa kecepatan putar motor (putaran per menit) yang makin tinggi pada kendaraan tidaklah berarti bahwa jarak yang ditempuh kendaraan (meter per menit) tersebut menjadi lebih jauh, karena jarak tempuh masih bergantung pada perbandingan roda gigi yang dipakai.
Kedua, instruksi pada prosesor RISC memiliki format-tetap, sehingga rangkaian pengontrol instruksi menjadi lebih sederhana dan ini berarti menghemat penggunaan luasan keping semikonduktor. Bila prosesor CISC (misalnya Motorola 68000 atau Zilog Z8000) memanfaatkan 50% - 60% dari luas keping semikonduktor untuk rangkaian pengontrolnya, prosesor RISC hanya memerlukan 6%-10%. Eksekusi instruksi menjadi lebih cepat karena rangkaian menjadi lebih sederhana (Robinson, 1987 : 144; Jonhson 1987 : 153).
Ketiga, instruksi yang berhubungan dengan memori hanya instruksi isi (load) dan instruksi simpan (store) , instruksi lain dilakukan dalam register internal prosesor. Cara ini menyederhanakan mode pengalamatan (addressing) dan memudahkan pengulangan kembali instruksi untuk kondisi-kondisi khusus yang dikehendaki (Robinson, 1987 : 144; Jonhson, 1987: 153). Dengan ini pula perancang lebih menitikberatkan implementasi lebih banyak register dalam cip prosesor. Dalam prosesor RISC, 100 buah register atau lebih adalah hal yang biasa. Manipulasi data yang terjadi pada register yang umumnya lebih cepat daripada dalam memori menyebabkan prosesor RISC berpotensi beroperasi lebih cepat.
Keempat, prosesor RISC memerlukan waktu kompilasi yang lebih lama daripada prosesor RISC. Karena sedikitnya pilihan instruksi dan mode pengalamatan yang dimiliki prosesor RISC, maka diperlukan optimalisasi perancangan kompilator agar mampu menyusun urutan instruksi-instruksi sederhana secara efisien dan sesuai dengan bahasa pemrograman yang dipilih. Keterkaitan desain prosesor RISC dengan bahasa pemrograman memungkinkan dirancangnya kompilator yang dioptimasi untuk bahasa target tersebut.
Fase Awal Perkembangan Prosesor RISC
Ide Dasar
Ide dasar prosesor RISC sebenarnya bisa dilacak dari apa yang disarankan oleh Von Neumann pada tahun 1946. Von Neumann menyarankan agar rangkaian elektronik untuk konsep logika diimplementasikan hanya bila memang diperlukan untuk melengkapi sistem agar berfungsi atau karena frekuensi penggunaannya cukup tinggi (Heudin, 1992 : 18). Jadi ide tentang RISC, yang pada dasarnya adalah untuk menyederhanakan realisasi perangkat keras prosesor dengan melimpahkan sebagian besar tugas kepada perangkat lunaknya, telah ada pada komputer elektronik pertama. Seperti halnya prosesor RISC, komputer elektronik pertama merupakan komputer eksekusi-langsung yang memiliki instruksi sederhana dan mudah didekode.
Hal yang sama dipercayai juga oleh Seymour Cray, spesialis pembuat superkomputer. Pada tahun 1975, berdasarkan kajian yang dilakukannya, Seymour Cray menyimpulkan bahwa penggunaan register sebagai tempat manipulasi data menyebabkan rancangan instruksi menjadi sangat sederhana. Ketika itu perancang prosesor lain lebih banyak membuat instruksi-instruksi yang merujuk ke memori daripada ke register seperti rancangan Seymour Cray. Sampai akhir tahun 1980-an komputer-komputer rancangan Seymour Cray, dalam bentuk superkomputer seri Cray, merupakan komputer-komputer dengan kinerja sangat tinggi.
Pada tahun 1975, kelompok peneliti di IBM di bawah pimpinan George Radin, memulai merancang komputer berdasar konsep John Cocke. Berdasarkan saran John Cocke, setelah meneliti frekuensi pemanfaatan instruksi hasil kompilasi suatu program, untuk memperoleh prosesor berkinerja tinggi tidak perlu diimplementasikan instruksi kompleks ke dalam prosesor bila instruksi tersebut dapat dibuat dari instruksi-instruksi sederhana yang telah dimilikinya. Kelompok IBM ini menghasilkan komputer 801 yang menggunakan instruksi format-tetap dan dapat dieksekusi dalam satu siklus detak (Robinson, 1987 : 143). Komputer 801 yang dibuat dengan teknologi ECL (emitter coupled logic) , 32 buah register, chace terpisah untuk memori dan instruksi ini diselesaikan pada tahun 1979.
Prosesor RISC Berkeley
Kelompok David Patterson dari Universitas California memulai proyek RISC pada tahun 1980 dengan tujuan menghindari kecenderungan perancangan prosesor yang perangkat instruksinya semakin kompleks sehingga memerlukan perancangan rangkaian kontrol yang semakin rumit dari waktu ke waktu. Hipotesis yang diajukan adalah bahwa implementasi instruksi yang kompleks ke dalam perangkat instruksi prosesor justru berdampak negatif pemakaian instruksi tersebut dalam kebanyakan program hasil komplikasi (Heudin, 1992 : 22). Apalagi, instruksi kompleks itu pada dasarnya dapat disusun dari instruksi-instruksi sederhana yang telah dimiliki.
Rancangan prosesor RISC-1 ditujukan untuk mendukung bahasa C, yang dipilih karena popularitasnya dan banyaknya pengguna. Realisasi rancangan diselesaikan oleh kelompok Patterson dalam waktu 6 bulan. Fabrikasi dilakukan oleh MOVIS dan XEROX dengan menggunakan teknologi silikon NMOS (N-channel Metal-oxide Semiconductor) 2 mikron. Hasilnya adalah sebuah cip rangkaian terpadu dengan 44.500 buah transistor (Heudin, 1992 : 230). Cip RISC-1 selesai dibuat pada musim panas dengan kecepatan eksekusi 2 mikrosekon per instruksi (pada frekuensi detak 1,5 MHz), 4 kali lebih lambat dari kecepatan yang ditargetkan. Tidak tercapainya target itu disebabkan terjadinya sedikit kesalahan perancangan, meskipun kemudian dapat diatasi dengan memodifikasi rancangan assemblernya.
Berdasarkan hasil evaluasi, meskipun hanya bekerja pada frekuensi detak 1,5 MHz dan mengandung kesalahan perancangan, RISC-1 terbukti mampu mengeksekusi program bahasa C lebih cepat dari beberapa prosesor CISC, yakni MC68000, Z8002, VAX-11/780, dan PDP-11/70.
Hampir bersamaan dengan proses fabrikasi RISC-1, tim Berkeley lain mulai bekerja untuk merancang RISC-2. Cip yang dihasilkan tidak lagi mengandung kesalahan sehingga mencapai kecepatan operasi yang ditargetkan, 330 nanosekon tiap instruksi (Heudin, 1992 : 27-28).
RISC-2 hanya memerlukan luas cip 25% dari yang dibutuhkan RISC-1 dengan 75% lebih banyak register. Meskipun perangkat instruksi yang ditanamkan sama dengan perangkat instruksi yang dimiliki RISC-1, tetapi di antara keduanya terdapat perbedaan mikroarsitektur perangkat kerasnya. RISC-2 memiliki 138 buah register yang disusun sebagai 8 jendela register, dibandingkan dengan 78 buah register yang disusun sebagai 6 jendela register. Selain itu, juga terdapat perbedaan dalam hal organisasi alur-pipa (pipeline) . RISC-1 memiliki alur-pipa dua tingkat sederhana dengan penjeputan (fetch) dan eksekusi instruksi yang dibuat tumpang-tindih, sedangkan RISC-2 memiliki 3 buah alur-pipa yang masing-masing untuk penjemputan instruksi, pembacaan operan dan eksekusinya, dan penulisan kembali hasilnya ke dalam register.
Sukses kedua proyek memacu tim Berkeley untuk mengerjakan proyek SOAR (Smalltalk on RISC) yang dimulai pada tahun 1983. Tujuan proyek ini adalah untuk menjawab pertanyaan apakah arsitektur RISC bekerja baik dengan bahasa pemrograman Smalltalk? Jadi proyek SOAR ini merupakan upaya pertama menggunakan pendekatan RISC untuk pemrosesan simbolik.
Versi pertama mikroprosesor SOAR diimplementasikan dengan menggunakan teknologi NMOS 4 mikron. Cip yang dihasilkan memiliki 35.700 buah transistor dan bekerja dengan kecepatan 300 nanosekon tiap instruksi. Versi kedua yang dirancang pada 1984-1985 menggunakan teknologi CMOS (Complementary Metal-oxide Semiconductor). Beberapa prosesor berarsitektur RISC banyak yang dipengaruhi oleh rancangan mikroprosesor SOAR, misalnya mikroprosesor SPARC (dari Sun Microsystems Inc.) dan KIM20 yang dirancang Departemen Pertahanan Perancis.
Mengikuti proyek SOAR, kelompok Berkeley kemudian mengerjakan proyek SPUR (Symbolic Processing Using RISC) yang dimulai tahun 1985. Proyek SPUR bertujuan untuk merancang stasiun-kerja (workstation) multiprosesor sebagai bagian dari riset tentang pemrosesan paralel (Robinson, 1987 : 145). Selain itu, proyek SPUR juga melakukan penelitian tentang rangkaian terpadu, arsitektur komputer, sistem operasi, dan bahasa pemrograman. Sistem prosesor SPUR dibangun dengan 6-12 prosesor berkinerja tinggi yang dihubungkan satu sama lain, serta dihubungkan dengan memori dan peranti masukan/keluaran melalui Nubus yang telah dimodifikasi. Unjuk kerja sistem diperbaiki dengan menambahkan chace sebesar 128 kilobyte pada tiap prosesor untuk mengurangi kepadatan lalu lintas data pada bus dan mengefektifkan pengaksesan memori (Heudin, 1992 : 31).
Prosesor RISC Stanford
Sementara proyek RISC-1 dan RISC-2 dilakukan kelompok Patterson di Universitas California, pada tahun 1981 itu juga John Hennessy dari Universitas Stanford mengerjakan proyek MIPS (Microprocessor without Interlocked Pipeline Stages) . Pengalaman riset tentang optimasi kompilator digabungkan dengan teknologi perangkat keras RISC merupakan kunci utama proyek MIPS ini. Tujuan utamanya adalah menghasilkan cip mikroprosesor serbaguna 32-bit yang dirancang untuk mengeksekusi secara efisien kode-kode hasil kompilasi (Heudin, 1992: 34).
Perangkat instruksi prosesor MIPS terdiri atas 31 buah instruksi yang dibagi menjadi 4 kelompok, yakni kelompok instruksi isi dan simpan, kelompok instruksi operasi aritmetika dan logika, kelompok instruksi pengontrol, dan kelompok instruksi lain-lain. MIPS menggunakan lima tingkat alur-pipa tanpa perangkat keras saling-kunci antar alur-pipa tersebut, sehingga kode yang dieksekusi harus benar-benar bebas dari konflik antar alur-pipa.
Direalisasi dengan teknologi NMOS 2 mikron, prosesor MIPS yang memiliki 24.000 transistor ini memiliki kemampuan mengeksekusi satu instruksi setiap 500 nanodetik. Karena menggunakan lima tingkat alur-pipa bagian kontrol prosesor MIPS ini menyita luas cip dua kali lipat dibanding dengan bagian kontrol pada prosesor RISC. MIPS memiliki 16 register dibandingkan dengan 138 buah register pada RISC-2. Hal ini bukan masalah penting karena MIPS memang dirancang untuk mebebankan kerumitan perangkat keras ke dalam perangkat lunak sehingga menghasilkan perangkat keras yang jauh lebih sederhana dan lebih efisien. Perangkat keras yang sederhana akan mempersingkat waktu perancangan, implementasi, dan perbaikan bila terjadi kesalahan.
Sukses perancangan MIPS dilanjutkan oleh tim Stanford dengan merancang mikroprosesor yang lebih canggih, yakni MIPS-X. Perancangan dilakukan oleh tim riset MIPS sebelumnya ditambah 6 orang mahasiswa, dan dimulai pada musim panas tahun 1984. Rancangan MIPS-X banyak diperbaruhi oleh MIPS dan RISC-2 dengan beberapa perbedaan utama :
1. Semua instruksi MIPS-X merupakan operasi tunggal dan dieksekusi dalam satu siklus detak
2. Semua instruksi MIPS-X memiliki format tetap dengan panjang instruksi 32-bit
3. MIPS-X dilengkapi pendukung koprosesor yang efisien dan sederhana
4. MIPS-X dilengkapi pendukung untuk digunakan sebagai prosesor dasar dalam sistem multiprosesor memori-bersama (shared memory)
5. MIPS-X dilengkapi chace instruksi dalam-cip yang cukup besar (2 kilobyte)
6. MIPS-X difabrikasi dengan teknologi CMOS 2 mikron.
Sama seperti MIPS, MIPS-X merupakan prosesor dengan alur-pipa tanpa saling-kunci (interlock) perangkat keras. Perangkat lunaknya dirancang untuk mengikuti pewaktuan instruksi agar tidak terjadi konflik antar alur-pipa (Heudin, 1992 : 36-37).
Cip pertama yang dihasilkan bekerja baik dengan detak 16 MHz, lebih rendah dari target yang dicanangkan setinggi 20 MHz, akibat tidak sempurnanya instruksi percabangan. Versi 25 MHz dibuat dengan menggunakan teknologi CMOS 1,6 mikron. Ditambah dengan chace yang diintregrasikan pada cip prosesor, MIPS-X berisi hampir 150.000 transistor di atas keping seluas 8 x 8,5 mm (Heudin, 1992 : 38).
INSTRUCTION SET
INSTRUCTION SET (SET INTRUKSI)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
ISA merupakan sebuah spesifikasi dari kumpulan semua kode-kode biner (opcode) yang diimplementasikan dalam bentuk aslinya (native form) dalam sebuah desain prosesor tertentu. Kumpulan opcode tersebut, umumnya disebut sebagai bahasa mesin (machine language) untuk ISA yang bersangkutan. ISA yang populer digunakan adalah set instruksi untuk chip Intel x86, IA-64, IBM PowerPC, Motorola 68000, Sun SPARC, DEC Alpha, dan lain-lain.
ISA kadang-kadang digunakan untuk membedakan kumpulan karakteristik yang disebut di atas dengan mikroarsitektur prosesor, yang merupakan kumpulan teknik desain prosesor untuk mengimplementasikan set instruksi (mencakup microcode, pipeline, sistem cache, manajemen daya, dan lainnya). Komputer-komputer dengan mikroarsitektur berbeda dapat saling berbagi set instruksi yang sama. Sebagai contoh, prosesor Intel Pentium dan prosesor AMD Athlon mengimplementasikan versi yang hampir identik dari set instruksi Intel x86, tetapi jika ditinjau dari desain internalnya, perbedaannya sangat radikal. Konsep ini dapat diperluas untuk ISA-ISA yang unik seperti TIMI yang terdapat dalam IBM System/38 dan IBM IAS/400. TIMI merupakan sebuah ISA yang diimplementasikan sebagai perangkat lunak level rendah yang berfungsi sebagai mesin virtual. TIMI didesain untuk meningkatkan masa hidup sebuah platform dan aplikasi yang ditulis untuknya, sehingga mengizinkan platform tersebut agar dapat dipindahkan ke perangkat keras yang sama sekali berbeda tanpa harus memodifikasi perangkat lunak (kecuali yang berkaitan dengan TIMI). Hal ini membuat IBM dapat memindahkan platform AS/400 dari arsitektur mikroprosesor CISC ke arsitektur mikroprosesor POWER tanpa harus menulis ulang bagian-bagian dari dalam sistem operasi atau perangkat lunak yang diasosiasikan dengannya.
Ketika mendesain mikroarsitektur, para desainer menggunakan Register Transfer Language (RTL) untuk mendefinisikan operasi dari setiap instruksi yang terdapat dalam ISA.
Sebuah ISA juga dapat diemulasikan dalam bentuk perangkat lunak oleh sebuah interpreter. Karena terjadi translasi tambahan yang dibutuhkan untuk melakukan emulasi, hal ini memang menjadikannya lebih lambat jika dibandingkan dengan menjalankan program secara langsung di atas perangkat keras yang mengimplementasikan ISA tersebut. Akhir-akhir ini, banyak vendor ISA atau mikroarsitektur yang baru membuat perangkat lunak emulator yang dapat digunakan oleh para pengembang perangkat lunak sebelum implementasi dalam bentuk perangkat keras dirilis oleh vendor.
Daftar ISA di bawah ini tidak dapat dikatakan komprehensif, mengingat banyaknya arsitektur lama yang tidak digunakan lagi saat ini atau adanya ISA yang baru dibuat oleh para desainer.
ISA yang diimplementasikan dalam bentuk perangkat keras
- Alpha AXP (DEC Alpha)
- ARM (Acorn RISC Machine) (Advanced RISC Machine now ARM Ltd)
- IA-64 (Itanium/Itanium 2)
- MIPS
- Motorola 68k
- PA-RISC (HP Precision Architecture)
- IBM POWER
- IBM PowerPC
- SPARC
- SuperH (Hitachi)
- System/360
- Tricore (Infineon)
- Transputer (STMicroelectronics)
- VAX (Digital Equipment Corporation)
- x86 (IA-32, Pentium, Athlon) (AMD64, EM64T)
ISA yang diimplementasikan dalam bentuk perangkat lunak lalu dibuat perangkat kerasnya
- p-Code (UCSD p-System Version III on Western Digital Pascal Micro-Engine)
- Java virtual machine (ARM Jazelle, PicoJava)
- FORTH
ISA yang tidak pernah diimplementasikan dalam bentuk perangkat keras
- SECD machine
- ALGOL Object Code
Langganan:
Postingan (Atom)